Profil Mahasiswa

Program Studi Sastra Jerman Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad merupakan salah satu program studi bahasa asing di lingkungan FIB Unpad dengan tiga bidang pengutamaan yang dapat ditempuh mahasiswa: Linguistik, Penerjemahan, dan Sastra. Ketiga pengutamaan ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk mendalami bahasa Jerman tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai objek kajian ilmiah dan pintu masuk memahami cara berpikir suatu bangsa.

Bahasa asing bukan sekadar kumpulan kosakata dan tata bahasa yang dihafal, melainkan cara pandang baru terhadap dunia. Setiap bahasa menyimpan logika, nilai, dan cara bernalar yang khas, sehingga mempelajarinya berarti melatih fleksibilitas berpikir dan kepekaan terhadap perspektif yang berbeda dari milik sendiri. Kemampuan inilah yang membedakan lulusan bahasa asing: mereka terbiasa menavigasi ambiguitas dan memahami bahwa satu persoalan bisa dilihat dari lebih dari satu sudut pandang.

Pada pengutamaan Linguistik, mahasiswa mempelajari struktur bahasa Jerman secara sistematis mulai dari bunyi, kata, kalimat, hingga makna dalam konteks sosial. Kajian ini melatih ketelitian analitis dan kemampuan memecah persoalan kompleks menjadi bagian-bagian yang dapat dipahami secara logis, sebuah keterampilan yang relevan jauh di luar disiplin bahasa itu sendiri.

Pengutamaan Penerjemahan menempatkan mahasiswa pada persoalan praktis: bagaimana memindahkan makna, bukan sekadar kata, dari satu bahasa ke bahasa lain tanpa kehilangan nuansa aslinya. Pekerjaan ini menuntut kecermatan berbahasa sekaligus pemahaman lintas budaya, karena penerjemah yang baik harus mengenali apa yang tersirat dalam sebuah teks, bukan hanya apa yang tertulis.

Sementara itu, pengutamaan Sastra mengajak mahasiswa membaca, menafsirkan, dan mendiskusikan karya-karya sastra Jerman dari puisi, prosa, hingga drama sebagai jendela untuk memahami sejarah pemikiran, konflik sosial, dan kondisi manusia yang direkam melalui bahasa. Melalui sastra, mahasiswa belajar berempati pada pengalaman yang tidak mereka alami sendiri, sekaligus melihat bagaimana satu karya dapat memuat banyak lapisan makna sekaligus.

Ketiga pengutamaan ini pada akhirnya bertemu pada satu tujuan yang sama: membentuk lulusan yang tidak hanya fasih berbahasa Jerman, tetapi juga mampu berpikir kritis, peka secara interkultural, dan siap menjadi jembatan antara dua dunia yaitu Indonesia dan Jerman, baik dalam dunia kerja, pendidikan, maupun kehidupan sosial secara luas.